Uncategorized

Antara Percaya dan Tidak Percaya

Pada salah satu kutub kehidupan, ada peristiwa yang namanya paradoks. Iya, betul, paradoks lagi, dan lagi-lagi paradoks. Karena memang banyak sisi-sisi kehidupan ini sering kita jumpai hal itu. Misalnya, bagaimana mungkin, seseorang yang berusaha untuk mencapai sesuatu dianggap sebagai orang yang tidak mempercayai ketentuan Alloh SWT.

Dilain sisi, orang yang melarang seseorang lainnya merencanakan dan mengusahakan mimpinya, menilai dirinya sebagai orang yang percaya atas ketentuan Alloh SWT.

Padahal sudah jelas, meskipun makhluk ini jungkirbalik mengusahakan meraih mimpi dan keinginannya, kalau memang Alloh SWT tidak menghendaki mimpi itu menjadi nyata, maka mustahil lah mimpi itu terwujud. Alloh SWT sudah jelas-jelas maha tahu, apa-apa saja yang terbaik buat makhluknya. Ketika orang itu berusaha mewujudkan mimpinya dan senantiasa pasrah, apakah mimpi itu terwujud atau tidak, apakah kemudian pantas orang ini dijustifikasi sebagai orang yang tidak percaya akan ketentuan Alloh SWT?

Ketika justifikator mencegah seseorang untuk menunaikan dan mengejar mimpinya hanya dilandasi oleh nafsu pribadinya, padahal dia paham betul akan segala kehendak Alloh SWT, mengapa dengan gagahnya dia justru menilai pengejar mimpi sebagai orang yang mengingkari kekuasaan Alloh SWT?

Soal nafsu, apakah nafsu itu hanya melulu soal selangkangan saja? Oh No, tentu tidak. Nafsu meliputi segala kehendak badanih, batiniah, yang hakikatnya melampaui atau mendahului ketentuan ilahiah. Misalnya, sesorang menolak firman Alloh SWT hanya karena kepentingannya terganggu oleh firman tersebut, ini adalah salah satu contoh maujudnya nafsu ke permukaan.

Natuna-Ranai, 21 Maret 2014

Comments