Uncategorized

Ke Sekolah, Naik “Kereta” atau Naik “Sudako”

Tunggu dulu…, jangan bayangkan bahwa “Kereta” yang saya maksudkan di sini adalah Kereta Api sebagaimana lazimnya orang Indonesia menyebut salah satu moda transportasi yang berbentuk rangkaian gerbong dan memunyai jalur khusus berupa rel. “Kereta” yang saya maksudkan disini adalah sebuah istilah penyebutan untuk salah satu alat transportasi yang paling banyak digunakan kalangan bawah saat ini di Indonesia, yaitu sepeda motor. Ya, masyarakat Kota Medan memang lebih akrab dengan kata “kereta” untuk menyebutkan sepeda motor. Entah dari mana asalnya, tapi begitulah, masing-masing daerah di Indonesia memiliki beragam sebutan dan nama untuk satu objek yang sama, karena memang Indonesia memiliki keragaman budaya, bahasa, suku yang sangat buuanyak sekali, so wajar saja begitu. Saya pun tidak tertarik untuk membahasnya di sini, karena memang itu sudah lazim di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan.

Eits, ada satu lagi istilah yang agak aneh ini, “Sudako”. Sudako adalah sebutan untuk angkutan kota di Kota Medan.  Disebut Sudako,  ada yang bilang Sumatera Daihatsu Company (Sudaco) dan ada juga yang bilang berasal dari Suzuki, Daihatsu, dan Colt. Merk tersebut merupakan kendaraan angkutan yang mendominasi di era 60-an dan 70-an dulu.

Ada yang protes, tentang Sudako di bahas, kok tentang Kereta tidak dibahas? Sudahlah, karena memang saya juga baru baca asal kata Sudako itu, jadi biar saya ingat, ya saya tulis aja sekalian secara singkat :). Okelah, langsung saja ke pokok materi.

Sejak kasus kecelakaan maut yang melibatkan anak salah seorang selebritas papan atas beberapa waktu yang lalu, seolah menjadi pintu pembuka bagi seluruh lapisan masyarakat untuk beramai-ramai mengevaluasi tentang begitu permisivnya budaya kita terhadap anak dalam hal penggunaan kendaraan bermotor.

Banyak alibi dan apologi diluncurkan terkait hal ini, misalnya “Saya sebagai orang tua merasa lebih tenang dan aman ketika anak saya ke sekolah naik sepeda motor dari pada naik angkutan umum, tau sendiri kan bagaimana parahnya tingkat kejahatan di angkutan umum, semua juga bisa baca dan dengar beritanya” lalu ada lagi “Rasanya lebih praktis dan irit ketika anak bisa pergi sekolah dengan mengendarai sepeda motor sendiri dibanding harus membayar supir khusus untuk antar jemput anak sekolah” ada juga yang berapologi begini ” Kalau soal ugal-ugalan, itu tergantung anaknya, kalau memang dasar anaknya nakal, kemanapun tetap akan ugal-ugalan bawa keretanya, tergantung kawan main juga lah pokoknya“. Berbagai alasan tersebut kalau dikaji memang ada benarnya, apalagi ketika kita harus melepas anak gadis kita pergi sendirian ke tempat lesnya sampai malam hari, pasti kecemasan kita tak terkira ketika sang anak harus pergi pulang menaiki angkutan umum yang menyeramkan itu.

Meskipun semua sopir telah terdata dengan rapi, sehingga jika suatu saat terjadi tindak kejahatan akan sangat mudah mengungkapnya, apakah keperawanan seorang anak gadis bisa dikembalikan setelah mengalami kejahatan seksual di angkutan umum? Tentu tidak.

Lagi-lagi, terkait sarana transportasi ini, tuntutan selalu dilayangkan kepada pihak pemerintahan supaya menyediakan sarana transportasi yang memadai, nyaman, dan aman. Jangan hanya menuntut kepada rakyatnya supaya taat aturan lalu lintas, sementara uang negara lebih banyak yang dikorupsi dibanding yang dimanfaatkan sungguh-sungguh untuk perbaikan sarana dan prasarana umum termasuk angkutan massal perkotaan.

Ada seorang teman yang pernah menyampaikan, guna menghindari masalah hukum, gunakanlah sepeda listrik. Harganya yang terjangkau, dan kecepatannya yang maksimal hanya 20 km/jam sehingga sulit untuk dibawa kebut-kebutan, anak pun tidak harus kelelahan mengayuh sepeda karena ada bantuan listrik, dan tidak pula mesti memiliki SIM untuk mengendarainya, tak pula mesti bertaruh keselamatan dengan menaiki angkutan umum.

Pada akhirnya, semua dikembalikan kepada kebijaksanaan masing-masing orang tua, solusi dipecahkan berasama antara orang tua dan anak, sehingga keamanan, kenyamanan, dan ketenangan dalam berkendara dan beraktifitas sehari-hari bisa dicapai.

Comments